"DORAEMON"
![]() |
| Foto: Google |
"DORAEMON"
Aku Nobi Nobita. Orang-orang biasa memanggilku Nobita. Usiaku kini mendekati 50 tahun, dan bukan lagi sebagai bocah kelas V SD.
Aku baru tahu tidak lama setelah aku melangsungkan pernikahan, kenapa Takeshi Goda--atau si 'Big G', atau kami para temannya biasa memanggil dengan sebutan Giant--dulu selalu menggangguku. Ternyata dia, Giant, bertujuan baik, agar aku bisa menjadi lelaki tangguh kelak. Lelaki, atau lebih tepatnya suami tangguh bagi adiknya, Jaiko. Namun takdir berkata lain. Shizuka Minamoto, wanita yang sejak dulu aku sukai justru yang menjadi istriku. Walaupun dulu Shizuka sempat dekat dengan Dekisugi.
Aku dan Shizuka dikaruniai seorang anak yang kini telah dewasa, yang aku beri nama sama dengan nama ayahku, Nobisuke Nobi. Anakku adalah anak yang periang, dan istriku masih saja terlihat cantik seperti dulu. Shizuka yang cantik dan baik hati.
Masa kanakku adalah masa yang sangat berkesan. Penuh warna-warni persahabatan. Terutama ketika hari-hariku terisi oleh "Doraemon".
Dulu, aku begitu dekat dengannya. Tak ada satu masalah pun yang luput aku larungkan bersama dengan "Doraemon". Aku kerap merengek bahkan menangis penuh harap di dalam kekhusyukan "Doraemon". Permintaanku hampir selalu terkabulkan lewat "Doraemon". Walau terkadang tak sesuai pengharapan, namun semuanya memuaskan dan mampu menghilangkan resah hatiku.
Begitulah sekilas tentang masa kanakku.
***
Seingatku, sejak awal aku mulai bekerja, secara perlahan aku mulai melupakan "Doraemon". Sibuknya dunia para pekerja, sedikitnya waktu tersisa, dan penatnya menjalani rutinitas sehari-hari, perlahan menjadikanku menjadi pribadi yang bukan lagi sebagai Nobi Nobita.
Hingga pada suatu saat, karir pekerjaanku melesat dengan cepat. Semua hal yang berbau duniawi dengan mudah bisa kudapatkan. Harta berlimpah, istri yang tetap baik dan setia, anak yang cerdas dan membanggakan orangtua, kondisi tubuh yang selalu prima, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Hal-hal tersebut membuat "Doraemon" semakin hilang dalam hari-hariku. Tak ada lagi kekhawatiran yang menggangu. Tak perlu lagi cemas melakukan apapun juga. Semua dosa yang dulu selalu kuhindari, sekarang malah seperti makanan sehari-hari. Keluguan dan kebaikan hati yang dulu aku miliki sepertinya sudah tak ada lagi di dalam sini. Dalam hatiku.
Awalnya aku berpikir, "Bagaimana dengan istri dan anakku jika aku melakukan dosa seperti ini?" Tapi seiring dengan waktu, setiap dosa yang kulakukan, mereka tetap tidak mengetahuinya, mereka tetap seperti biasanya. Bagiku, semua dosa yang selama ini aku lakukan tak membawa efek buruk dalam kehidupanku.
***
Di suatu sore yang cerah. Shizuka sedang sibuk di dapur, Nobisuke sedang asyik dengan hobinya membuat miniatur, dan aku sedang menikmati kopi hitam pahit buatan Shizuka sambil berselancar di dunia maya.
Sekilas tanpa sengaja mataku membaca sebuah kata dari salah satu artikel tentang agama.
"Istidraj? Apa itu istidraj?" Tanyaku dalam hati.
Rasa penasaran seketika menguasai diriku. Biasanya aku paling malas jika membaca segala sesuatu yang berbau agama. Tapi detik ini, entah mengapa aku begitu tertarik dengan kata tersebut.
Dengan tenang aku baca artikel tentang istidraj tersebut. Perlahan aku resapi kata per kata, kalimat demi kalimat. Semakin aku memahami, semakin sesak dada ini. Aku merasa seperti tertimpa pohon besar. Tanpa sadar, air mataku mengalir. Aku menangis tanpa suara. Lama sekali. Tubuhku bergetar hebat.
Kilatan demi kilatan masa lalu, masa kanak-kanakku, masa-masa jahiliyahku, silih berganti melintas dalam ingatanku. Ada rasa penyesalan yang begitu hebat, aku merasa bodoh, aku merasa hina. Begitu sombongnya aku selama ini, ya Allah!
Ketika kondisi tersebut telah terlewati, dadaku terasa luang. Tak ada lagi yang mengganjal. Tanpa menunggu lama, aku segera melaksanakan shalat Ashar, salah satu ibadah yang telah lama aku tinggalkan. Setelahnya, aku segera melepas rinduku dengan "Doraemon". "Ya Allah, mohon terima tobatku, mohon ampuni dosa-dosaku."
***
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)
”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 2969. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
***
Aku Nobi Nobita. Aku bisa menjadi aku, kamu, dia, kita, mereka, dan bisa menjadi siapa saja ... dan "Doraemon" yang dimaksud adalah doa.
°Bogor,
Rabu, 12 September 2018.

Komentar
Posting Komentar