 |
| Foto: Dokumentasi Pribadi |
Banyak saya temui tulisan membahas film Joker di berbagai media sosial. Karena penasaran, akhirnya saya tertarik untuk ikut menulis juga. Tapi dari sudut pandang bapak-bapak yang kerjanya cuma jadi tukang ojek merangkap 'ternak teri' (nganter anak nganter istri). Hehehe ....
Saya mau membahas film secara umum, yang juga sudah menjadi bagian di dalam masyarakat.
Tapi sebelum lebih jauh, berikut ini adalah pengertian film dan masyarakat:
°Film secara fisik, adalah selaput tipis yang terbuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan dalam bioskop). Selaput tipis tersebut terdiri dari 4 lapisan. Dari yang teratas Jelatin, lalu Emulsi, selanjutnya Landasan, dan terakhir Anti Halo.
°Film secara kesepakatan sosial, adalah lakon (cerita) gambar hidup, atau segala sesuatu yang berkaitan dengan gambar hidup.
°Sementara pengertian Masyarakat adalah, sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
Jika mengacu dari pengertian Film dan Masyarakat di atas, lalu dipadukan dengan pengertian film secara sosial, maka akan ada dua sisi yang bisa dibahas. Pertama, masyarakat perfilman, dan kedua, masyarakat penonton film.
Pengertian masyarakat perfilman sendiri adalah semua pekerja film, mulai dari produser, sutradara, sampai pembantu umum, serta semua lembaga yang terkait.
Sementara masyarakat penonton film adalah masyarakat umum dengan segala lapisan sosial dan tingkatan usia. Termasuk saya ini. Hehehe ....
Film, sebagai salah satu karya seni juga punya banyak definisi. Tapi penggambaran film sebagai karya seni ala Joseph M. Boggs mungkin bisa mewakili bahwa film adalah karya seni terkomplet dari semua unsur seni yang ada. Seperti yang tertulis dalam bukunya yang berjudul "The Art of Watching Film.":
"Seperti halnya seni lukis, film sekarang ini mempergunakan garis, susunan warna, dan bentuk. Seperti drama, film melakukan komunikasi gambar melalui laku dramatik, gerak dan ekspresi, dan komunikasi suara melalui dialog. Seperti musik dan puisi, film mempergunakan irama yang kompleks dan halus, di samping juga berkomunikasi melalui citra, metafora, dan lambang-lambang. Laksana pantomim, film memusatkan diri pada gambar bergerak. Seperti tari, gambar-gambar bergerak tersebut memiliki sifat-sifat ritmis tertentu. Dan akhirnya seperti novel, film mempunyai kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang, mengembangkan dan mempersingkatnya, memajukan dan memundurkannya secara bebas dalam batas-batas wilayah yang cukup lapang."
Tarik napas dulu ... hehehe.
Saya pernah jadi bagian dari masyarakat perfilman. Sedikit banyak tahu betapa tidak mudah untuk membuat film yang sesuai dengan kriteria yang terdapat dalam Pasal 5, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang perfilman, yaitu:
"Film sebagai media komunikasi massa pandang dengar mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi."
Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa hal tersebut bisa terjadi. Selain karena tuntutan skenario, juga karena menyangkut berbagai macam kondisi dari tiap individu masyarakat perfilman itu sendiri. Baik kondisi intelektual, kondisi wawasan kebudayaan, wawasan antropologi, wawasan sosiologi, wawasan psikologi, penguasaan ilmu-ilmu film atau sinematografi, dan kondisi bakat. Hingga film yang banyak beredar di dalam negeri (termasuk luar negeri) lebih cenderung cuma memenuhi poin sebagai hiburan dan ekonomi belaka.
Sebenarnya di dalam negeri sendiripun, seorang Teguh Karya sudah pernah membangkitkan perfilman Indonesia dengan berupa mencerdaskan dunia perfilman tanpa harus memasukan unsur seks dan kekerasan. Hasil karyanya tersebut bisa ditonton dalam film yang judulnya "Badai Pasti Berlalu".
Dalam poin pengembangan budaya bangsa dan poin pendidikan, Teguh Karya juga pernah menyemangati para sineas lainnya untuk, "Menjadi pemenang karena memiliki jumlah penonton terbanyak. Kita tidak perlu takut dengan film impor karena kita punya ciri khas budaya dari yang kekayaannya tidak terbatas. Kalau kita tidak mau dengan hal-hal yang tidak dihargai orang lain, kita harus menciptakan harga sendiri supaya dihargai."
Dalam potongan wawancara pada tanggal 27 Agustus 1989, Teguh Karya juga pernah menegaskan tentang kekuatan yang dimiliki dari film itu sendiri, "Ya, karena media film juga dapat membuat masyarakat cerdas tetapi juga dapat membuat masyarakat bodoh."
Lalu sebagai bagian dari masyarakat penonton film, saya pribadi pun punya kecenderungan menangkap pesan cerita suatu film dengan perspektif yang mungkin berbeda dari orang lain.
Pandangan tersebut tergantung dari berbagai macam kondisi yang pernah dan sampai sekarang sedang saya alami. Termasuk kondisi psikologis dan seberapa hebat pesan yang disampaikan dalam racikan film tersebut.
Contoh yang belum lama ditiriskan dari penggorengan adalah ungkapan: "Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti."
Tak sedikit orang dewasa yang menyetujui ungkapan yang dibidani film Joker tersebut. Mereka orang DEWASA, ungkapan tersebut dimaklumi, bahkan dianggap keren!
Sebagaimana sepak terjang tokoh Joker dalam film tersebut (sadis, brutal, dan tanpa belas kasih), secara pribadi, saya justru memaklumi jika tokoh tersebut pada akhirnya berbuat semua itu. Tapi jika dilihat dari pendekatan behaviorisme.
Seperti yang ditulis J. B. Watson dalam bukunya yang berjudul "Psychologycal Care of Infrant and Child", halaman 104, yang isinya kira-kira begini:
"Berikan saya selusin anak yang sehat dan tegap, setelah itu biarkan saya pelihara mereka dengan cara saya sendiri. Saya jamin, satu anak yang saya pilih secara acak diantara mereka, bisa saya didik jadi spesialis sesuai yang saya mau. Bisa jadi dokter, pengacara, seniman, saudagar, pengemis, ataupun pencuri, dengan mengenyampingkan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan, dan ras orangtuanya."
Watson menulis begitu bukan berarti dia sombong dan tidak punya landasan apa-apa. Sebelumnya dia sudah melakukan eksperimen terhadap seorang anak, dan dinyatakan berhasil.
Di sisi lain, sebagai salah satu bagian dari masyarakat penonton film, saya tidak setuju dengan ungkapan, "Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti," tersebut. Karena Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam tidak pernah mencontohkan aksi seperti film di atas. Meskipun di-bully (dicaci, dimaki, difitnah, dihina) di depan wajahnya setiap hari pun, Nabi tetap mampu bersabar. Dalam riwayat-riwayat yang lain, Nabi juga pernah diperlakukan kasar (diludahi, dipukul, sampai akan dibunuh), tapi beliau tetap menanggapinya dengan akhlak yang mulia.
Itu baru salah satu dampak nyata yang bisa kita saksikan bersama dari sebuah film yang berjudul Joker. Sebuah ungkapan yang tidak semestinya dibenarkan malah dimaklumi. Mungkin juga sudah tertanam erat dalam dada ini. Astaghfirullah ....
Sementara itu, dua tahun yang lalu. Di Inggris pernah ada kasus seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang mati bunuh diri setelah menonton film serial yang berjudul '13 Reasons Why'. Film tentang seorang remaja yang membuat 13 rekaman video alasannya bunuh diri.
Empat tahun yang lalu, di Jakarta. Pernah ada juga pelajar umur 14 tahun yang mati gantung diri. Diduga karena hobi nonton film horror (semua status yang dia buat, tentang film horror) dan juga dipicu oleh hubungan kedua orangtuanya yang berantakan.
Setahun yang lalu, di Lembang. Pernah ada pembunuhan seorang ibu. Diduga dilakukan anaknya yang berperilaku autis. Pembunuhan tersebut terjadi sehari setelah mereka menonton film horror di bioskop, yang berjudul "The Nun". Si ibu tewas dengan 28 tusukan, dan si anak berlari keluar rumah dengan tangan berlumuran darah sambil memegang pisau.
Di Riau, Agustus tahun ini. Seorang gadis berumur 14 tahun meninggal dicangkul di belakang lehernya oleh seorang pemuda yang hobi menonton film 'begituan'.
Jakarta, September di tahun ini. Ada juga pengakuan seorang istri yang membunuh suami dan anak tirinya dengan cara dibakar. Menurut pengakuannya, hal tersebut dilakukan karena terinspirasi sering menonton sinetron.
Itu beberapa berita yang bisa di-Googling, dan disinyalir merupakan salah satu pengaruh negatif dari film atau tontonan.
Memang tidak setiap orang punya kecenderungan melakukan hal seperti itu. Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan menjadi pemicunya. Salah satunya, kondisi psikologis, seperti yang sudah sedikit dijabarkan sebelumnya.
Sebenarnya hal macam itu juga banyak tersaji di film yang tokoh-tokohnya berkarakter vigilante (dengan tingkat kesadisan yang berbeda-beda). Seperti "The Punisher", "Batman", "Green Arrow", atau "Rorschach". Bahkan di film "The Equalizer" (1 dan 2)--yang sama-sama diperankan Denzel Washington--aksi-aksi sadisnya terkesan dilakukan dengan niatan yang 'ikhlas'.
Belum lagi kalau ditambah tentang 'subliminal messages' atau pesan bawah sadar. Bisa semakin panjang tulisan ini. Dampaknya, saya tidak bisa fokus ngojek dan 'ternak teri'. Hehehe ....
Tapi sekedar menyinggung sedikit tentang 'subliminal messages'. Ada contoh kecil yang bisa dilihat di film kartun "Toy Story". Dalam film tersebut ada pesan tersembunyi tentang penanaman budaya bangsa (sudah jelas bangsa Amerika). Secara kontinyu dihadirkan lewat tokoh utamanya, Woody si koboy, mulai dari film yang pertama sampai yang keempat.
Masih banyak lagi pesan-pesan tersembunyi di berbagai macam film yang lainnya. Bukan cuma tentang kekerasan dan penanaman budaya bangsa saja, tapi juga penanaman perilaku, pola pikir, orientasi seksual, kebiasaan, dan lain-lainnya.
Di akhir tulisan ini, saya kutip perkataan dari Ustadz Adi Hidayat:
"Kelak film Anda--termasuk saya--di dunia akan diputar di akhirat."
Komentar
Posting Komentar