 |
| Foto: Dokumentasi Pribadi |
Waktu menunjukkan pukul 13.17. Dua orang bocah terlihat agak tergopoh-gopoh memasuki musholla. Mereka masih mengenakan seragam putih merah.
"Assalamualaikum, Pak Ustadz!" Seru bocah yang lebih besar kepada pengurus musholla.
"Waalaikumsalam! Ada apa, Dik?" tanya Pak Ustadz singkat.
"Begini, Pak Ustadz. Tadi saya sama teman saya ini nemu uang, Pak," kata bocah yang lebih besar.
"Gimana ceritanya?" tanya Pak Ustadz semakin penasaran.
"Waktu saya sama teman saya lagi jalan lewat warung yang sudah tutup. Eh, saya lihat ada buntelan yang dibungkus amplop warna coklat. Iseng-iseng saya ambil. Pas saya buka, ternyata ada tumpukan uang 50 ribuan yang diikat rapih, pak ustadz. Saya sama teman saya langsung deg-degan. Terus saya hitung. Jumlahnya 1 juta, Pak! Saya sama teman saya bingung, gimana caranya nyari yang punya uang ini? Setelah rundingan, akhirnya pilihan yang terbaik ke sini. Saya minta tolong sama Pak Ustadz, tolong umumin berita kehilangan ini." Begitu cerita singkat bocah yang lebih besar, sambil menyerahkan bungkusan amplop warna coklat tersebut.
"Kalian kelas berapa?" tanya Pak Ustadz.
"Saya kelas 6 SD, kalau teman saya kelas 4 SD, Pak Ustadz."
"Baik, kalian tunggu di pojok situ dulu, ya," kata Pak Ustadz sambil tersenyum.
Dengan cekatan Pak Ustadz langsung menyeting 'mic' dan 'sound' sedemikian rupa untuk menyiarkan berita kehilangan tersebut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh! Berita kehilangan. Telah ditemukan sejumlah uang. Bagi yang merasa kehilangan bisa langsung datang ke musholla ini. Terimakasih." Pak Ustadz mengulang pemberitahuan tersebut sebanyak tiga kali, dan diakhiri dengan salam.
Belum ada 10 menit, sebanyak 15 orang sudah berkumpul di dalam musholla. Saya jadi deg-degan, penasaran. Ada sebanyak itu yang merasa kehilangan uang? Selanjutnya gimana, nih?
***
Dihadapan ke-15 orang tersebut, Pak Ustadz cuma cerita garis besarnya. Tanpa mengulur waktu, Pak Ustadz langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
"Uang yang ditemukan ini, bagaimana kondisinya, apakah dalam keadaan terbungkus atau tidak?"
Dari 15 orang tersebut, satu per satu menjawab. Ada yang menjawab terbungkus, ada yang menjawab tidak terbungkus.
Pak Ustadz menunjuk tiga orang yang menjawab tidak terbungkus, lalu dia meminta maaf, dan meminta mereka untuk keluar dari musholla.
Suasana di dalam musholla hening untuk beberapa saat. Beberapa di antara mereka terlihat celingak-celinguk tanpa fokus yang pasti.
(Tanpa ada suara selingan seperti kuis-kuis di televisi) Lalu Pak Ustadz melanjutkan.
"Baik, kita lanjut ke pertanyaan berikutnya. Uang yang ditemukan ini jumlahnya berapa?"
Dari ke-12 orang yang tersisa, bermacam-macam jawabannya. Ada yang menjawab 50 ribu, 250 ribu, 500 ribu, 1 juta, dan bahkan ada yang menjawab 10 juta!
Kali ini, Pak Ustadz memilih tiga orang yang menjawab satu juta. Lalu dia meminta maaf kepada selain ketiga orang tersebut, dan memintanya untuk keluar musholla.
Keadaan di dalam musholla semakin menegangkan. Saya ikut kebawa suasananya.
Babak eliminasi berjalan cepat, sekarang sudah masuk babak final. Tinggal tiga orang yang tersisa!
Setelah ke-9 orang tersebut keluar, Pak Ustadz langsung lanjut pembicaraan lagi.
"Baik bapak-bapak, sekarang pertanyaan berikutnya. Ada atau tidak tulisan di amplop pembungkus uang tersebut?"
Semuanya menjawab ada.
"Isi tulisannya apa?" cecar Pak Ustadz dengan pertanyaan selanjutnya.
Ketiga orang tersebut diam. Suasana hening sekali. Mirip suasana anak kos yang lagi bokek, terus ditagih uang kos sama induk semangnya. Meneng bae. Ora ngopi-ngopi.
***
"Silahkan, Pak. Apa isi tulisannya?" Pak Ustadz mempersilahkan bapak yang memakai kaos berkerah untuk mulai menjawab terlebih dahulu.
"Ada tulisan, ditujukan kepada anak saya yang sedang merantau, Pak Ustadz," jawab orang tersebut.
"Kalau jawaban Bapak?" tanya Pak Ustadz kepada orang berkemeja lengan panjang.
"Tulisannya, ditujukan kepada Pak Bambang, Pak Ustadz," jawabnya.
"Kalau jawaban Bapak?" tanya Pak Ustadz kepada orang berjas dan berpeci hitam.
Dengan sigap, orang tersebut menjawab dengan logat bicara yang agak 'kebarat-baratan', "Isi tulisannya, ditujukan kepada Pak Salim, sebagai bantuan proyek yang sedang beliau tangani. Uang sebesar satu juta tersebut dalam pecahan 50 ribuan semua, Pak Ustadz."
Dengan dihiasi senyum, Pak Ustadz meminta maaf kepada orang berkaos kerah dan orang berkemeja lengan panjang, lalu meminta mereka untuk meninggalkan musholla.
Ternyata, meskipun orang berjas dan berpeci hitam tersebut sudah bisa dipastikan adalah pemilik uang sebesar satu juta tersebut, Pak Ustadz tidak langsung begitu saja menyerahkannya. Dia malah memberikan satu pertanyaan lagi kepada orang tersebut.
"Bisa diceritakan kronologi bapak kehilangan uang ini?" tanya Pak Ustadz.
"Terakhir saya kehilangan uang tersebut waktu saya mampir ngopi di warung dekat sini, Pak Ustadz. Mungkin uang tersebut jatuh dari dalam tas waktu saya tiba-tiba dihubungi untuk segera ikut rapat. Saya jadi agak terburu-buru melakukan pembayaran di warung itu, Pak Ustadz. Pas saya sadar uang saya hilang, saya langsung balik lagi ke warung itu. Tapi setelah saya cari-cari, tetap ga ketemu. Warungnya juga sudah tutup. Akhirnya saya pasrah. Eh, pas mau masuk ke dalam mobil, saya malah dengar pengumuman dari musholla ini, dan akhirnya saya ke sini, Pak Ustadz," begitu ceritanya.
Setelah mendengar penjelasan ceritanya, Pak Ustadz segera menyerahkan uang satu juta tersebut, sambil memberitahukan, bahwa yang menemukan uangnya adalah dua bocah yang duduk di pojokan sana.
Setelah mengucapkan terimakasih, orang berjas dan berpeci hitam tersebut terlihat bergegas menuju ke mobilnya.
Merasa sudah selesai, kedua bocah tersebut segera pamit ke Pak Ustadz.
Namun baru beberapa langkah keluar musholla, kedua bocah tersebut dihampiri oleh orang berjas dan berpeci hitam tersebut.
"Adik-adik, ini untuk ditabung, ya," kata orang berjas dan berpeci hitam tersebut, sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada bocah yang lebih besar.
"Wah, ga perlu repot-repot, Pak. Kami ikhlas, kok." Respon bocah yang lebih besar.
"Sudah, ga apa-apa, terima saja. Jangan lupa ditabung, ya!" ujar orang berjas dan berpeci hitam tersebut setengah memaksa.
Setelah menerima uang pemberian tersebut, kedua bocah kecil itu mengucapkan terimakasih, dan segera menuju ke dalam perkampungan.
***
***
Kehilangan. Seringkali diri ini merasa kehilangan. Kehilangan arah tujuan hidup. Kehilangan jati diri. Kehilangan harga diri, baik secara pribadi maupun berbangsa. Kehilangan kebaikan-kebaikan yang pernah dimiliki. Kehilangan akal sehat karena tertutup nafsu, tertutup kesombongan bahwa merasa lebih segalanya dari orang lain.
Seringkali juga diri ini mengabaikan kata hati. Mengabaikan hidayah yang datang hanya karena malu menjadi baik, malu menjadi taat, dan karena terlalu angkuh menerima hidayah itu sendiri.
Padahal diri ini juga tahu, bahwa bongkahan iman yang dimiliki bisa terkikis, tergerus, bahkan hilang tercabut dari dalam dada. Merasa kehilangan tapi enggan mencarinya. Parahnya, sudah jelas kehilangan tapi tak merasa kehilangan apa-apa.
Istighfar ...
“Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2497)
°Diadaptasi berdasarkan kisah nyata.
°Jakarta Timur,
Minggu, 08 April 2018.
Komentar
Posting Komentar