Langsung ke konten utama

Unggulan

"DORAEMON"

Foto: Google "DORAEMON" Aku Nobi Nobita. Orang-orang biasa memanggilku Nobita. Usiaku kini mendekati 50 tahun, dan bukan lagi sebagai bocah kelas V SD. Aku baru tahu tidak lama setelah aku melangsungkan pernikahan, kenapa Takeshi Goda--atau si 'Big G', atau kami para temannya biasa memanggil dengan sebutan Giant--dulu selalu menggangguku. Ternyata dia, Giant, bertujuan baik, agar aku bisa menjadi lelaki tangguh kelak. Lelaki, atau lebih tepatnya suami tangguh bagi adiknya, Jaiko. Namun takdir berkata lain. Shizuka Minamoto, wanita yang sejak dulu aku sukai justru yang menjadi istriku. Walaupun dulu Shizuka sempat dekat dengan Dekisugi. Aku dan Shizuka dikaruniai seorang anak yang kini telah dewasa, yang aku beri nama sama dengan nama ayahku, Nobisuke Nobi. Anakku adalah anak yang periang, dan istriku masih saja terlihat cantik seperti dulu. Shizuka yang cantik dan baik hati. Masa kanakku adalah masa yang sangat berkesan. Penuh warna-warni persahabatan. Ter...

STAND BY ME

Foto: Google

Yogyakarta, sekitar pertengahan tahun 90-an.

Antara solek modernisasi dan aura kesederhanaan tiap jengkal kotanya masih terlihat begitu dinamis tumbuh bersama. Ada banyak potongan hidup yang akan erat tertanam dalam ingatan, bagi yang pernah mencumbu unsur-unsur warna kota dan desanya. Ada banyak kerinduan, semuanya terbungkus 'berhati nyaman'.

*°*

Sore itu seperti biasa, Naruto berjalan kaki seorang diri, dari Babarsari menuju 40an untuk pulang ke rumahnya. Saat-saat seperti itu adalah saat bagi Naruto untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Saat mencari jawaban dari kegundahan hati yang selama ini menyiksanya.

"Ah, sudah saatnya," gumam Naruto. Dirinya sudah berada di titik 0 (nol) kilometer. Headset terpasang setengah melingkar di kepalanya. Ia hidupkan walkman yang memang selalu dibawanya. Angannya siap terbang bersama berbagai nuansa yang akan didengarnya. Setidaknya, angan tersebut terbukti mampu melumpuhkan rasa sakit yang dideritanya untuk sementara waktu. Rasa sakit tentang hidup yang menumpuk di dalam dadanya, tentang masa lalu yang sangat sulit dilupakannya. Tentang kehilangan cinta dari kedua orangtuanya.

*°*

Langkah kakinya siap menyebrangi rel kereta di Stasiun Tugu, menuju kawasan Malioboro. "Hmm ... kali ini aku putar album Be Here Now-nya Oasis," gumamnya lagi.

Sore di langit Yogya begitu cerah, seakan sengaja menutupi resah hati yang sedang melandanya. Warna senjanya seperti enggan berganti malam, dan Naruto pun semakin tenggelam. Namun kali ini, sang angan membawanya pada kisah asmaranya. Satu per satu, wajah-wajah itu melintas begitu saja di ingatannya.

Sakura Haruno
Gadis cerdas nan cantik. Feminin sekaligus tomboy. Gadis temperamen dan cenderung egois. Sempat lama memikat hatinya.

Naruto menyukai Sakura bukan hanya karena cerdas, cantik, dan baik, tapi juga karena sifat Sakura yang temperamental. Sama seperti dirinya. Namun fakta berbicara, ternyata Sakura menyukai Sasuke.

Mengetahui bahwa Sakura tidak menyukainya dan malah menyukai Sasuke, akhirnya Naruto justru mendukung Sakura untuk terus menyuburkan perasaannya kepada Sasuke. Hal inilah yang membuat Sakura tersadar, dan dirinya mulai menyukai ketulusan Naruto.

Temari Sabaku
Gadis cantik yang sangat mandiri. Hubungan asmaranya dengan Temari akhirnya hancur begitu saja, setelah Temari menganggap dirinya adalah laki-laki yang lemah, yang mudah sekali terpuruk kalah.

Di lain waktu, Naruto dapat mengalahkan Gaara. Sosok yang merupakan cerminan dari dirinya juga (selain Sasuke). Sosok yang sangat kesepian, kering akan kasih sayang, dan mencari pelarian dengan cara menghajar siapa saja yang menganggapnya tidak ada.

Namun ternyata, Naruto tetap berdiri tegak di tengah kandasnya hubungan tersebut.

Ino Yamanaka
Cantik, sangat menarik, percaya diri, dan pandai bersolek. Merupakan seorang gadis yang juga tidak mampu mempertahankan hubungan asmara dengan dirinya. Ino tak bisa setia kepada Naruto. Ia telah menghadirkan sosok lain dalam hatinya. Sasuke dan Sai.

Tenten
Seorang observer, analitis, gadis pandai, dan memiliki persepsi yang baik terhadap setiap permasalahan yang dihadapinya.

Pada sisi yang lain, Tenten adalah sosok representasi dari Naruto. Sosok yang pantang menyerah, menyukai petualangan, menyayangi teman-temannya, penuh perhatian, dan senang membantu yang sedang berkesusahan.

Di sisi yang lainnya, Tenten tidak dapat meneruskan kisah asmaranya bersama Naruto. Ada banyak cita-cita yang harus diwujudkannya, setelah kegagalannya ingin seperti Tsunade 'menamparnya' begitu keras. Tenten adalah Naruto.

Hinata Hyuuga
Sosok gadis tangguh sekaligus rapuh. Gadis yang selalu amat sangat percaya pada kebaikan hati semua mahluk hidup, terutama manusia. Gadis yang lemah lembut dan penyabar. Seorang pemalu yang tertutup tentang rasa di hatinya. Gadis terkuat namun lebih mengutamakan kelembutan hati sebagai jalan keluar dari permasalahan yang ada. Gadis ningrat yang memiliki harga diri yang tinggi, namun kesederhanaan dirinya mampu 'mengubur' hal tersebut.

Hinata adalah harmoni kesempurnaan seorang wanita. Kecantikan alaminya adalah gambaran alam semesta dan warna-warna sejuk di dalamnya. Hinata adalah satu-satunya gadis yang tulus mencintai Naruto, walaupun Neji Hyuuga, Shino Aburame, Kiba Inuzuka, dan Kabuto Yakushi menaruh hati dan perhatian kepada dirinya. Ketulusan cinta Hinata kepada Naruto dapat digambarkan sebagai cinta yang diam, dengan bongkahan besar dan terpendam di dasar hatinya. Sebuah bentuk cinta yang teramat berarti bagi diri Hinata.

Hingga suatu saat, ketika Naruto sedang 'bertarung melawan Pain', di situlah untuk pertama kali Hinata menyatakan cintanya kepada Naruto. Hal tersebut membuat Naruto terkejut, dan saat itu lagu Stand By Me mengalun pada lirik:

"There is one thing I can never give you. My heart will never be your home."

Seketika itu juga Naruto tersadar. Jawaban dari resah hatinya adalah Hinata. Hinata adalah si pembuka kunci pintu hatinya yang tertutup rapat. Pintu hati yang selama ini seharusnya dijadikan 'rumah' bagi belahan jiwanya.

Sementara itu, langkah kaki Naruto kini telah memasuki area Kraton menuju Tamansari. Lalu, ingatannya kembali lagi meresapi kisah sebelumnya.

*°*

Saat Naruto terdesak dan tak berdaya melawan 'Pain', Hinata ikut hadir menghadapinya.

Hinata sadar, bahwa melawan 'Pain' yang sedang dihadapi Naruto saat ini adalah suatu kebodohan yang nyata. Naruto pun tahu konsekuensi dari tindakan Hinata tersebut. Namun Hinata mempunyai keyakinan, bahwa dengan cara ini, ketulusan cintanya kepada Naruto mampu terwakili. Hinata rela menerima luka sesakit apapun saat melawan 'Pain'. Hinata tetap pada pendiriannya, walau akhirnya harus sekarat atau mati. Hinata tulus, Hinata bahagia.

Kini, rasa sakit dari ingatan Naruto seakan nyata dan terasa sesak di dada. Ingatan tersebut mengajak dirinya jauh ke masa silam. Masa di mana Hinata pertama kali mulai hadir dalam hidupnya.

Cinta Hinata yang diam mulai disadarinya. Dari tubuhnya yang salah tingkah ketika sedang berdekatan dengan dirinya. Dari kelembutan suaranya saat sedang berbicara dengan dirinya. Dari semu merah pada pipinya ketika sedikit saja mendapat perhatian darinya. Dari perhatian nyata ketika dirinya sedang tidak menyadarinya, dan terutama dari malu matanya, ketika sedang berbicara dengan dirinya. Ya ... matanya tak pernah sedikitpun mampu menatap wajah Naruto. Mata itu penuh rasa malu.

Naruto segera tersadar sesadar-sadarnya. Dia telah menemukan pasangan bagi hatinya. Seseorang yang selama ini berani membuka kunci hatinya yang tertutup rapat. Seseorang yang ternyata adalah guru baginya. Guru yang mengajarkannya dalam diam, untuk lebih bersabar, lebih tulus, lebih lembut, lebih sederhana, dan untuk lebih baik lagi dalam segala kebaikan.

Akhirnya Naruto menyadari, 'rumahnya' adalah hatinya sendiri, dan mempersilakan Hinata untuk 'menghuni' dengan kesetiaannya.

Sementara lagu Stand By Me hampir habis, langkah Naruto telah sampai di kampung tempat tinggalnya ... 40an.

"Stand by me. Nobody knows the way it's gonna be."



*Jakarta Timur,
Sabtu, 26 Maret 2016.

Komentar