MAHAKARYA
Bagian 1
Mahakarya atau masterpiece, bisa juga disebut adikarya, karya besar, atau karya agung. Merupakan "the most outstanding work of a creative artist or craftsman." (karya paling luar biasa dari seorang seniman atau pengrajin kreatif). Bisa juga diartikan sebagai "an outstanding achievement" (sebuah prestasi luar biasa), atau sebagai "anything done or made with extraordinary skill; a capital performance; a chef- d'œuvre; a supreme achievement" (apa pun yang dilakukan atau dibuat dengan keterampilan luar biasa; kinerja modal; seorang chef-d'œuvre; sebuah pencapaian tertinggi).
Dah banyak mahakarya tercipta dari para seniman di dunia ini. Dari seorang seniman sejati aja bisa tercipta banyak mahakarya. Ga sedikit juga dari mahakarya tersebut meraih pencapaian prestasi luar biasa.
Tapi yang bikin gue tertarik nulis kali ini adalah: peristiwa atau hal apa dan siapa yang mendasari terciptanya mahakarya tersebut.
Walau setiap mahakarya bisa 'dikuliti' jadi tulisan panjang dan bermutu tinggi, mohon maaf kalau yang gue hadirkan ini cuma ringkasan dari beberapa seniman dan masterpiece-nya aja. Mohon maaf juga kalau isi tulisannya berasa kacangan.
***
°Raden Saleh
Nama lengkapnya, Raden Saleh Sjarif Boestaman. Dikenal sebagai pelopor seni rupa modern Indonesia dan disebut sebagai Sang Pembaru.
Lahir tahun 1807 atau 1811 (tanggal dan bulannya ga diketahui), di Terboyo, Semarang. Meninggal di Bogor, 23 April 1880.
Dari sekian banyak karyanya yang bernilai tinggi dan dikenal luas masyarakat dunia, gue pilih satu masterpiece-nya sebagai mahakarya yang paling mahakarya. Lukisan berjudul "Penangkapan Pangeran Diponegoro" (1857).
Lukisan historis tersebut lahir dari protes dirinya atas lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman. Pangeran Diponegoro digambarkan Pieneman dengan wajah lesu dan pasrah, pengikutnya digambarkan mirip orang Arab. Padahal Pieneman sendiri ga pernah ke Jawa (waktu itu masih disebut Hindia-Belanda).
Meskipun banyak mengenyam pendidikan ala Barat, tapi jiwa patriotisme dan nasionalisme Raden Saleh ga luntur untuk negerinya. Dia respon lukisan Pieneman tersebut dengan karyanya. Awas kau, Grandong! Lukisan dibalas lukisan!
Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Raden Saleh membuatnya dari kiri. Wajah lesu dan pasrah ala Pieneman, diubah Raden Saleh menjadi tegas dengan menahan amarah. Para pengikut Pangeran Diponegoro ga lagi mirip orang Arab, tapi jelas dari beberapa figurnya digambarin sebagai orang Jawa, lengkap dengan batik dan blangkonnya. Semua sesuai TKP-nya.
Lukisan versi Raden Saleh jelas mengubah sudut pandang versi Pieneman secara signifikan. Dengan kecermatan dan kecerdasannya, Raden Saleh juga mengumpulkan informasi seputar penangkapan tersebut dan menghadirkannya senyata mungkin. Ini sejarah besar, Bung!
Dengan tambahan beberapa detail, Raden Saleh mengungkapkan bahwa para pengikut Pangeran Diponegoro ga ada yang bawa senjata. Pangeran Diponegoro sendiri pun ga bawa kerisnya, cuma megang tasbih. Hal-hal tersebut mengacu sesuai peristiwa terjadi, yaitu pada tanggal 28 Maret 1830, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Mereka datang dengan niat baik.
Ga cukup sampai di situ. Raden Saleh ternyata juga sengaja nyindir pihak Belanda lewat lukisannya itu. Kepala mereka digambar dengan ukuran yang lebih besar. Menyiratkan kesombongan yang mengerikan.
Nah ... pe epe, mi imir, sa asa. Apakah sepak terjang Raden Saleh lewat lukisannya tersebut selesai sampai di situ?
Ternyata belum.
Kalau lukisan versi Pieneman dikasih judul "Penyerahan Diri Diponegoro", versi Raden Saleh judulnya "Penangkapan Pangeran Diponegoro".
Secara tersirat dan tersurat, jelas dua versi judul lukisan tersebut saling bertolak belakang: "Penyerahan Diri Diponegoro" berkesan lemah, sedangkan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karena dilatari kecurangan dan pengkhianatan perjanjian oleh pihak Belanda.
Bisa dibayangin kalau Raden Saleh ga bikin lukisan tandingannya?
°Bogor,
Rabu, 20 Mei 2020.
***
Komentar
Posting Komentar