MAHAKARYA
Bagian 2
Pasti dah pada tau lagu yang judulnya "Hujan Gerimis" atau "Kompor Meleduk", yang penyanyinya dijulukin "Si Biang Kerok". Salah satu legenda dunia seni Indonesia yang multitalenta. Dia ga cuma bisa main musik, tapi dia juga bisa nyanyi, nyiptain lagu, ngelawak, akting, nulis skenario, dan jadi sutradara.
Yap, salah! Kalau jawabnya Haji Bolot. Kalau Benyamin Sueb baru bener.
Benyamin lahir di Kampung Utan Panjang, Kemayoran (Jakarta Utara), 5 Maret 1939 dan meninggal di Jakarta, 5 September 1995 (umur 56 tahun).
Karyanya yang lebih dari 75 album musik dan 53 judul film, bukti Benyamin seniman yang produktif banget.
Umur 2 tahun, Benyamin dah jadi yatim. Setahun berikutnya, Benyamin malah diajak ngamen keliling kampung sama kakak-kakaknya.
Awal bakat seninya terpengaruh kuat dari kakek-neneknya yang bermusik sebagai peniup klarinet dan pemain teater rakyat.
Dari kecil, Benyamin emang periang, jail, dan humoris. Itu dia yang bikin Benyamin disenengin teman-temannya.
Benyamin pernah juga bikin band yang dinamain Orkes Kaleng bareng kakak-kakaknya. Dinamain begitu karena emang semua instrumen musiknya dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem bass dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Rombeng banget!
Tapi emang dasarnya punya talenta murni yang emejing banget. Alat musik yang kondisinya begitu aja, ga menghalangi mereka selalu tampil menawan ngebawain lagu-lagu Belanda tempo dulu.
Singkat cerita. Seiring waktu darah seni terus terasah, akhirnya ada juga satu lagu ciptaan Benyamin yang dibawain sama idolanya banget, Bing Slamet. Secara gitu, waktu itu Bing Slamet dah jadi artis papan atas, tapi ternyata mau bawain lagu ciptaannya. Hebatnya lagi, lagu tersebut langsung ambyar kemana-mana, alias meledak di pasaran!
Awal mulanya dari Ateng yang waktu itu dah jadi pelawak terkenal, yang juga jadi tetangganya. Dia yang pertama kali ngenalin Benyamin ke Bing Slamet.
Ga pakai lama, akhirnya dua seniman tersebut langsung deket banget. Trus Benyamin ngasih lagu "Malam Minggu"-nya ke Bing Slamet. Setelah diamatin, sama Bing, lagu itu akhirnya 'dikilik' sedikit dan diganti judulnya jadi "Nonton Bioskop".
Saking suksesnya lagu itu, akhirnya sampai direkam ulang. Format pertama bentuknya piringan hitam, yang kedua pita kaset.
Nah, ini dia salah satu yang gue salutin sama kepribadian artis jadul macam Bing Slamet. Biarpun lagu "Nonton Bioskop" sukses berat, tapi tiap dia manggung, Bing Slamet selalu bilang, "Ini lagu milik adik saya, Benyamin."
Begini penggalan liriknya (versi diplesetin):
"Malem Minggu, Aye pergi ke bioskop.
Bergandengan ame koboi nonton pacar."
Waktu lagu berikutnya ditawarin lagi ke Bing Slamet, idolanya itu malah nolak. Bing yakin banget, kalau lagu itu justru lebih cocok dibawain sama Benyamin sendiri.
Penilaian Bing Slamet ga meleset. Lagu "Si Jampang" (1969) ambyar ga karu-karuan. Nge-hits banget di pasaran. Lagu ini bisa dibilang revolusioner, pembawa pesan dan representasi kebudayaan Betawi yang lentur.
Nah, dari semua unsur yang terdapat di lagu "Si Jampang" inilah sejarah hidup sang maestro Benyamin Sueb perlu diketahui. Tujuannya untuk bisa menyelami dan memahami karyanya yang lain serta memaknai "muatan" warisan yang ditinggalin Benyamin.
Sebagai kunci tambahan ngebaca karakter unik Benyamin Sueb (selain yang dah disebutin sebelumnya), berikut ini penelusuran sejarah hidupnya lebih jauh.
Cekidot ...
Dari jaman Benyamin lahir, Kemayoran dah jadi wilayah persilangan budaya dan perkawinan antar penduduk kampung setempat dan pendatang.
Keluarga intinya termasuk keluarga khas produk Kemayoran masa itu. Keluarga yang ikut menyesuaikan diri dari perkembangan modernisasi yang dah mulai kompleks.
Ibu Benyamin, Siti Aisyah, adalah putri seorang jagoan Betawi terkenal dan kaya, Rodiun atau kesohor sebagai Haji Ung. Ayah Benyamin adalah Sueb alias Sukirman, anak dari seorang serdadu Belanda asal Purworejo yang bernama Kromojoyo.
Kemayoran masa itu terkenal sebagai tempat ngumpulnya bermacam aktivitas seni. Gambang kromong, wayang kulit, der muluk atau tonil (nenek moyang lenong dines), sampai musik keroncong asal Tugu berirama jazz, yang akhirnya ngelahirin genre keroncong kemayoran.
Percampuran berbagai kesenian (tradisional dan modern) yang terjadi terus menerus tersebutlah yang ngebentuk kepribadian berkesenian Benyamin.
Dari kecil sampai remaja, Benyamin dah biasa nyerap unsur-unsur seni dari Barat. Jago nyanyi irama cha-cha, calypso, dan juga ngedalamin musik jazz bareng Jack Lesmana dan Bill Saragih.
Karena dah biasa berkesenian dengan banyak warna, Benyamin tetep bisa ngikutin arus perpolitikan Indonesia di tahun 1960-an. Di mana semua genre musik Barat dilarang.
Tapi justru di masa itulah Benyamin berhasil ngeramu semuanya dan akhirnya jadi ciri khas bermusiknya. Pribadi periang, suka ngebanyol, ngawinin musik tradisional-modern, trus dinyanyiin pakai format nge-lenong yang sarat spontanitas dan lepas.
Kreasi Benyamin Sueb lahir sebagai produk yang istimewa banget. Ga ada karya lain yang serupa karyanya. Cuma Benyamin Sueb yang punya dan bisa bikin karya macam itu.
Karya-karyanya lebih hebat, lebih sukses, dan mampu tertanam kuat dalam setiap penikmatnya melampaui para pendahulunya, macam pasangan Suhairi Mukti dan Lilis Suryani.
Bahkan waktu Orde Baru lahir, genre blues, rock, country, jazz, pop, disko, rap, dan bahkan seriosa dilibasnya tanpa kehilangan identitas kebetawiannya
Sebagai seniman, Benyamin nguasain banyak medan kesenian. Benyamin Sueb bukan sekadar nama. Dia adalah cermin budaya itu sendiri. Pencapaian seperti yang dah diraihnya disebut oleh penulis biografi terkemuka, Rudolf Mrazek, sebagai “struktur pengalaman” atau apa yang telah membudaya dalam diri seseorang, mengonsepkan dirinya dan masyarakat.
Benyamin “anti-formalisme”. Disebut oleh pengamat kebudayaan Betawi, Mona Lohanda, sebagai ciri utama budaya Betawi yang jauh dari pakem kaku. Sejarawan JJ Rizal malah punya pendapat sendiri. Dia bilang, “Tokoh seperti Ben cuma lahir seabad sekali."
Bagi para pengamat bahasa pasti juga setuju kalau syair atau lirik lagu Benyamin punya muatan sastra. Karena selain hobi main sepak bola, ternyata dia juga suka baca buku tentang inspirasi, filsafat, dan biografi dari tokoh-tokoh ternama. Salah satunya Buya Hamka.
Dia juga terkenal kritis. Kritikannya cerdas, satire, sarkastik, tapi ga nyakitin hati. Karya-karyanya sering diekspresiin ngebanyol, tapi kesannya miris ngetawain diri sendiri. Cerdas!
Tarik napas dulu ...
Pemirsa! Pe epe, mi imir, sa asa! (Trus dalam hati yang baca tulisan ini teriak bareng-bareng, "Ea! Ea! Eaaaa!" Tangannya sambil nyosor-nyosor mirip uler kadut mau makan kodok ijo.)
Balik lagi ke ... lagu "Si Jampang".
Sebagai penutup tulisan ini, disaranin dengerin langsung lagu "Si Jampang" tersebut. Silakan dinikmati, dicermati, dan lakukan perbandingan dengan tulisan ini.
Kalau sesuai, Alhamdulillah, semoga mencerahkan dan bermanfaat.
Kalau ga sesuai, gue ucapin "Mohon maaf lahir dan batin."
°Bogor,
Minggu, 24 Mei 2020.
*Selain lagu "Si Jampang", coba dengerin juga lagunya yang lain, macam "Sepak Bola", "Superman", "Blues Kejepit Pintu", atau "Digebukin" (yang ngebayangin dia 'take vocal' aja bisa bikin ketawa guling-guling).
*Ketika meninggal, Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Sesuai wasiatnya, dia minta dimakamin sebelahan sama makam Bing Slamet yang dah dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.
*Disarikan dari berbagai sumber dan diolah dengan segala keterbatasan.
Komentar
Posting Komentar